PRO-KONTRA ADAPTASI KEBIASAAN BARU : MASYARAKAT BISA APA?

Kajian Strategis PENITI 2020

NASKAH KAJIAN STRATEGIS_PENITI 2020


COVID-19 atau corona virus disease 2019 yang disebabkan oleh virus SARS CoV-2 merupakan wabah yang berdampak secara global (Sanders et al., 2020). Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi ini berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Banyak kebijakan telah dipertimbangkan untuk menanggulangi dampak pandemi yang sangat masif dirasakan oleh seluruh kalangan masyarakat. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan kebijakan awal untuk menghadapi ancaman pandemi COVID-19 dan berlangsung selama 3 bulan. Setelah itu, penerapan PSBB mulai memasuki masa transisi dan selanjutnya digantikan oleh penerapan “Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)”.

Perlu diketahui Adaptasi kebiasaan baru (AKB) sendiri merupakan perubahan narasi dari istilah awal New Normal (Normal Baru) yang tujuannya mempermudah internalisasi ke masyarakat mengenai pengertian dari pelaksanaan kebijakan ini (KemenkesRI, 2020). Menurut WHO, New normal life (dinarasikan AKB) sendiri merupakan bagian dari exit strategy dalam menghadapi pandemi COVID-19. AKB ini dilaksanakan untuk memastikan produktivitas masyarakat dengan tetap memperhatikan keamanan masyarakat dari infeksi COVID-19 (KemenkesRI, 2020). Oleh karena itu, timbul sebuah pertanyaan, “apakah AKB ini akan menjadi jalan tengah antara masalah produktivitas dan kesehatan yang terjadi di masyarakat?”

Apakah “Kita” siap menjalani AKB?

Terdapat beberapa standar penting yang perlu dipertimbangkan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah daerah yang menerapkan AKB harus dapat membuktikan bahwa transmisi COVID-19 pada daerah tersebut telah dikendalikan dengan efektif dan aman. Menilik kondisi saat ini yang dihadapi Indonesia, apakah benar transmisi sudah terkendali? Berdasarkan keputusan WHO, angka positivity rate yang disarankan untuk mendukung new normal life adalah 5%, sedangkan disadur dari Kompas.com angka positivity rate Indonesia berkisar 12,3%. Angka ini merujuk pada laporan organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tanggal 22 juli 2020, seperti yang terlihat pada gambar 1. Hal ini menunjukkan bahwa dari 100 orang yang dilakukan tes baik nasal swab maupun PCR terdapat 12 orang positif terinfeksi COVID-19, jauh diatas angka yang disarankan. Tidak menutup kemungkinan penerapan AKB ini dapat menjadi bumerang untuk Indonesia yang nantinya menyebabkan dampak negatif yang jauh lebih besar dan luas ( Mukaromah, 2020; Rizal, 2020).

Gambar 1 : Positivity rate Indonesia
Sumber : WHO,2020

Peningkatan jumlah kasus ini terjadi akibat meningkatnya peluang kontak orang yang sehat dengan orang yang terkena COVID karena tidak diberlakukan lagi PSBB. AKB secara teori memang kebijakan yang cemerlang; program ini sampai digadang-gadang menjadi harapan utama untuk mengembalikan berbagai aspek kehidupan ke kondisi “normal”. Namun, serupa dengan beberapa kebijakan sebelumnya, AKB merupakan kebijakan yang pada hakikatnya sangat bergantung pada peran masyarakat. Nyatanya, kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan khususnya pada tempat umum masih sangat rendah (Ardiansyah, 2020; Ferdiansyah, 2020). Hal ini dibuktikan melalui Gambar 2 yang menujukkan jumlah kasus positif COVID-19 yang meroket melebihi 100 ribu jiwa sebuah cerminan terhadap kenaikan kasus positif yang terjadi di lapangan (BPS, 2020). Oleh karena itu, pelaksanaan AKB terasa masih kurang efektif.

Gambar 2 : Grafik kasus COVID-19 di Indonesia
Sumber : (BPS, 2020)

Mengapa pemerintah tetap melaksanakan AKB ?

Permasalahan utama yang diakibatkan oleh PSBB adalah dampaknya terhadap ekonomi bangsa. Ekonomi memang menjadi dasar utama mengapa AKB ini harus dilaksanakan. Menurut United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), adanya pandemi COVID-19 dapat berpengaruh kepada negara berkembang yang berusaha untuk melunasi hutang negaranya (UNCTAD, 2020). Selain itu, menurut Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (ILO), kebijakan karantina wilayah diperkirakan akan berdampak pada 2,7 miliar pekerja di seluruh dunia, meliputi penyempitan lapangan kerja, hilangnya beberapa sektor pekerjaan, hingga terjadinya PHK berskala besar (ILO, 2020).

Penerapan PSBB berkepanjangan diperkirakan dapat menimbulkan resesi ekonomi di Indonesia (CNBC Indonesia, 2020). Resesi ekonomi sendiri didefinisikan sebagai penurunan kegiatan ekonomi yang signifikan dan terjadi dalam jangka waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Dampak resesi ekonomi adalah penurunan kegiatan ekonomi seperti lapangan pekerjaan, keuntungan perusahaan, dan investasi. Resesi ekonomi ini jika berlangsung terlalu lama akan menimbulkan terjadi depresi ekonomi dimana keterpurukan ekonomi yang lebih berat dan panjang akan terjadi (Kompas, 2020). Berbagai negara telah dilanda resesi ekonomi akibat pandemi corona. Salah satu contohnya adalah Singapura. Pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal II 2020 mencapai minus 41,2 %. Dampak nyata yang ditimbulkan oleh kejadian ini adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) (CNBC Indonesia, 2020)

Menteri Koordinator bidang perekonomian Indonesia, Airlangga Hartanto, menyatakan bahwa kebijakan AKB ini bertujuan untuk memperkuat baik dari sisi kesehatan maupun sisi ekonomi dan diharapkan Indonesia dapat melewati pandemi ini dengan aman baik dari segi kesehatan maupun ekonomi (Muhyiddin, 2020).

Selama pemberlakuan PSBB, diketahui banyak masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan dan sumber pemasukannya. Pelaksanaan AKB diharapkan dapat mengatasi situasi ini dengan menekan risiko terjadinya PHK karyawan dan memulihkan kembali kehidupan ekonomi masyarakat. Dalam skala nasional, penerapan AKB diharapkan dapat tetap menyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mencegah terjadinya resesi ekonomi. Selain itu, pemerintah juga mendorong agar proyek strategis nasional (PSN) tetap dilaksanakan dikarenakan potensinya untuk membuka lapangan kerja yang besar bagi masyarakat Indonesia (CNN Indonesia, 2020). Oleh karena itu, pemerintah melihat dampak buruk PSBB terhadap ekonomi negara yang secara langsung dapat membahayakan kehidupan masyarakat, sehingga penerapan AKB segera dilaksanakan

Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat?

Berdasarkan peninjauan di atas, pelaksanaan AKB di Indonesia yang bahkan sekarang sudah berjalan di beberapa institusi maupun perusahaan menyebabkan masyarakat harus mulai membuka mata dengan situasi dan kondisi saat ini. Pelaksanaan AKB terlihat sangat sulit dihindari karena menimbang dampak besarnya pada ekonomi di negara kita. Oleh karena itu, terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mensukseskan penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yaitu:

a. Patuhi dan terapkan protokol kesehatan

Perlu diketahui pada AKB ini, meskipun masyarakat diminta untuk berdamai atau mengadaptasi gaya hidup bersama dengan pandemi, protokol kesehatan harus tetap diperhatikan. Adanya protokol ini bertujuan untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, terutama di tempat dan fasilitas umum. Berkumpulnya orang dalam jumlah besar dan pergerakan yang cepat di daerah tersebut menjadi alasan pentingnya protokol kesehatan tanpa mengabaikan aspek ekonomi dan sosial. Agar protokol kesehatan dapat mencapai target yang diharapkan, diperlukan kedisiplinan dalam implementasinya, terutama dari pihak masyarakat yang memilik peran terbesar dalam menentukan kesuksesan AKB. Prinsip umum protokol ini harus memenuhi dua komponen, yaitu perlindungan kesehatan individu dan perlindungan kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2020)

Adapun hal yang perlu diperhatikan komponen kesehatan individu adalah sebagai berikut (Kemenkes RI, 2020) :

  1. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi hidung dan mulut hingga ke dagu ketika harus bepergian atau berinteraksi dengan orang lain. Untuk penggunaan masker kain, sebaiknya menggunakan tiga lapis. Penggunaan masker ini berguna untuk mencegah penularan virus COVID-19 dikarenakan rute utama penularannya yaitu droplet (percikan). Perlu juga diperhatikan, dalam penggunaan masker medis tidak boleh digunakan berkali-kali karena bersifat single-use disposable sehingga setelah digunakan langsung dibuang. Untuk masker non medis seperti masker kain harus sering dicuci dan berhati-hati dalam menyimpan agar tidak torkontaminasi bahan lain. sesudah penggunaan masker kain, masker harus dicuci terlebih dahulu sebelum menggunakannya kembali (WHO, 2020).
  2. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau antiseptik berbasis alkohol secara berkala.
  3. Menghindari menyentuh area mulut, hidung, dan mata sebelum mencuci tangan.
  4. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena doplet ketika batuk, bersin, atau berbicara.
  5. Menghindari keramaian, kerumunan, dan berdesakan dengan banyak orang.

b. Menjaga Daya Tahan Tubuh

Daya tahan tubuh merupakan faktor penting dalam melawan infeksi virus SARS-COV-2 (Yazdanpanah and Hamblin, 2020). Daya tahan tubuh yang baik menyebabkan mekanisme pertahanan tubuh kita lebih kuat dalam memerangi virus atau dengan kata lain, tidak menimbulkan penyakit berbahaya bagi diri kita. Oleh karena itu, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh mereka. Adapun langkah langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah sebagai berikut :

  1. Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang.
  2. Melakukan aktivitas fisik secara teratur minimal 30 menit setiap hari.
  3. Beristirahat yang cukup (minimal 7 jam setiap hari).
  4. Bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta/komorbiditas/kondisi yang rentan terhadap COVID-19 agar berhati-hati ketika berada di tempat umum yang ramai karena rawan terinfeksi.

c. Meningkatkan literasi dan promosi kesehatan

Mengetahui tentang bagaimana cara penyebaran dan beberapa informasi mengenai virus COVID-19 bukan hanya dipelajari oleh tenaga kesehatan, tetapi juga perlu diketahui masyarakat umum. Dengan literasi tersebut, masyarakat akan lebih waspada dengan terhadap COVID-19 sehingga mendorong kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Selanjutnya, kepatuhan ini akan berujung pada penurunan angka positif COVID-19. Oleh karena itu, terlihat bagaimana pentingnya literasi dalam suksesnya AKB ini.

Dalam mendapat dan membagikan informasi, sering kali masalah mengenai “sumber informasi” membayangi masyarakat. Hal ini akan menyebabkan kegaduhan di masyarakat dan berujung pada timbulnya perilaku yang menyimpang. Sebagai contoh masalah yang sekarang menjadi topik pembicaraan yaitu “obat dan vaksin COVID-19”. Topik ini sangat sensitif jika terjadi salah informasi karena bukan hanya menimbulkan kegaduhan namun dapat menimbulkan korban jiwa.

Sumber informasi yang didapat harus jelas dan terpercaya agar menghentikan masalah salah informasi tersebut. Dilansir dari Kominfo terdapat beberapa kiat agar dapat terhindar dari salah informasi yaitu :

  1. Jika menemukan judul provokatif harus dicerna dengan seksama dan hati-hati
  2. Perhatikan dengan baik alamat situs sumber informasi
  3. Periksalah fakta yang ada dalam berita tersebut dan bandingkan dengan berita lain
  4. Selalu bersikap tenang dan kritis terhadap informasi yang dibahas (KOMINFO, 2020).

Informasi mengenai COVID-19 yang terpercaya dapat merujuk pada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan badan kesehatan dunia (WHO).

Selain menambah pengetahuan pribadi, masyarakat diharapkan saling memberi informasi tentang COVID-19 kepada keluarga dan masyarakat lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan jumlah masyarakat yang waspada akan penyebaran COVID-19. Promosi dapat dilakukan dengan cara sosialisasi dan edukasi melalui berbagai media informasi untuk menyebarkan pemahaman kepada masyarakat.

Demikian kajian yang dapat kami sampaikan. Sebagai penutup, kami ingin menekankan bahwa keberhasilan pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru di Indonesia sangatlah erat kaitannya dengan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Pada dasarnya kebijakan ini dibuat oleh pemerintah karena menimbang kondisi di masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, kita harus berkerjasama dalam pelaksanaan AKB ini sehingga kita semua berhasil dalam menghadapi pandemi COVID-19.


DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, D., 2020. Kesadaran Masyarakat Dinilai Masih Rendah Terapkan Protokol Kesehatan [WWW Document]. URL https://rmoljabar.id/kesadaran-masyarakat-dinilai-masih-rendah-terapkanprotokol-kesehatan/ (diakses pada : 7.29.20).

BPS, 2020. Survei COVID-19 Badan Pusat Statistik [WWW Document]. URL https://covid-19.bps.go.id/ (diakses pada 7.29.20).

CNBC Indonesia. (2020) Jika Sebuah Negara Alami Resesi, Ini Dampak Mengerikannya. https://www.cnbcindonesia.com/market/20200718072930- 17-173700/jika-sebuah-negara-alami-resesi-ini-dampak-mengerikannya. Di akses pada tanggal 2 Agustus 2020

CNN Indonesia. (2020). Menyelamatkan Ekonomi Indonesia Melalui Penerapan AKB. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200616191535-297- 514013/menyelamatkan-ekonomi-indonesia-melalui-penerapan-newnormal, diakses pada tanggal 29 juni 2020.

Ferdiansyah, R., 2020. Masyarakat masih Abaikan Protokol Kesehatan di Pasar [WWW Document]. URL https://mediaindonesia.com/read/detail/321724- masyarakat-masih-abaikan-protokol-kesehatan-di-pasar (diakses pada 7.29.20).

ILO. (2020). ILO Monitor: COVID-19 and the world of work. Second edition Updated estimates and analysis, https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/@dgreports/@dcomm/document s/briefingnote/wcms_740877.pdf, diakses pada tanggal 29 Juni 2020.

KemenKes RI, 2020 (2020) ‘Protokol kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian corona virus disease 2019 (covid-19)’, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor 9(Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus DIsease 2019 (COVID-19)), pp. 1–66.

KemenkesRI, 2020. Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru. [online] Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Available at: [diakses 22 August 2020].

KOMINFO, 2020. Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” Di Dunia Maya. [online] Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Available at: [diakses pada 6 August 2020].

Kompas. 2020. Apa itu Resesi Ekonomi?. https://www.kompas.com/skola/read/2020/07/25/183712869/apa-itu-resesiekonomi. diakses pada tanggal 4 Agustus 2020.

Muhyiddin, M. (2020). Covid-19, AKB, dan Perencanaan Pembangunan di Indonesia. The Indonesian Journal of Development Planning, 4(2), 240–252. https://doi.org/10.36574/JPP.V4I2.118

Mukaromah, V.F., 2020. Melebihi Batas WHO, Positivity Rate Covid-19 di Indonesia 12,3 Persen, Apa Dampaknya? Halaman all – Kompas.com [WWW Document]. URL https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/25/112700465/melebihi-bataswho-positivity-rate-covid-19-di-indonesia-12-3-persen-apa?page=all (diakses pada 29 Juli 2020).

Rizal, J.G., 2020. Positivity Rate Covid-19 Indonesia 12,3 Persen, Peringkat 5 SeAsia Halaman all – Kompas.com [WWW Document]. URL https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/26/070000565/positivity-ratecovid-19-indonesia-12-3-persen-peringkat-5-se-asia?page=all (diakses pada 7.29.20).

Sanders, J.M., Monogue, M.L., Jodlowski, T.Z., Cutrell, J.B., 2020. Pharmacologic Treatments for Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): A Review. JAMA – J. Am. Med. Assoc. 323, 1824–1836.

UNCTAD. (2020). From the Great Lockdown to the Great Meltdown: Developing Country Debt in the Time of Covid-19, https://unctad.org/en/PublicationsLibrary/gdsinf2020d3_en.pdf, diakses pada tanggal 29 Juni 2020.

WHO, 2020. [online] Who.int. Available at: [Accessed 13 Agustus 2020].

WHO, 2020. Anjuran Mengenai Penggunaan Masker Dalam Konteks COVID-19. [online] Who.int. Available at: [diakses pada 13 August 2020].

Yazdanpanah, F. and Hamblin, M. R. (2020) ‘The immune system and COVID-19 : Friend or foe ?’, Life sciences, (January), pp. 1–5.