Pamflet PTSD : Link dan Link

Selain menimbulkan dampak yang cukup berat pada fisik dan sosial, suatu kejadian hebat atau kejadian yang mengancam kehidupan juga menimbulkan stressor berat yang berdampak pada masalah psikologis. Kecemasan atau ketakutan ini disebut dengan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder). Bagaimanakah ini bisa terjadi dan bagaimana penanganannya? Dalam rangka memperingati hari Kesehatan Jiwa Se-Dunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober, kajian ini akan membahas tentang Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

 

Apa itu PTSD ?

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan gangguan mental yang dapat berkembang setelah seseorang mengalami kejadian traumatis, seperti kekerasan seksual, peperangan, kecelakaan lalu lintas, atau kejadian-kejadian lainnya yang dapat mengancam kehidupan seseorang.1 PTSD semakin dikenal sebagai gangguan kesehatan mental karena beban sosial yang sangat besar, namun juga sebagai gangguan kecemasan. Secara khusus, PTSD dapat dikonseptualisasikan sebagai gangguan rasa takut dan disregulasi stres.2

 

Apa saja gejala PTSD ?

Gejala khas dari PTSD ini termasuk mimpi buruk dan kenangan-kenangan menyedihkan terkait trauma yang pernah dialami sebelumnya,. Seseorang yang mengalami PTSD ini cenderung untuk mencoba menghindari hal-hal yang menjadi pengingat trauma yang pernah mereka alami. Seseorang dengan PTSD ini mungkin hadir dengan berbagai gejala. Beberapa mungkin hadir dengan gejala yang biasa dan masih memiliki kemauan untuk mendapatkan perawatan. Selain itu, mereka juga dapat hadir secara dramatis dengan dekompensasi cepat yang mungkin mencakup penyalahgunaan alkohol, kemarahan, agresi, atau kekerasan yang tidak biasa, dan terkadang menyakiti diri sendiri. Dalam situasi militer, ini mungkin dikarenakan oleh masalah disiplin atau pengunduran diri yang tidak terduga. Gejala-gejala yang mungkin muncul juga dapat mencakup penurunan kinerja seseorang, perubahan kepribadian, isolasi sosial dan gejala dengan keluhan somatik yang tidak spesifik, khususnya insomnia.3

 

Bagaimana angka PTSD di dunia dan di Indonesia ?

Dari hasil laporan WHO tahun 2005 jumlah penduduk dunia yang menderita PTSD mencapai 3.230.000 orang atau setara dengan 0,2% dari seluruh masyarakat dunia. Dengan persebaran 28,5% atau 921.000 jiwa terdapat di Pasifik Barat, 27,4% atau 885.000 jiwa di Asia Tenggara, 14,2% atau 460.000 jiwa di Eropa, 12,6% atau 407.000 jiwa di Amerika, 9,3% atau 299.000 jiwa di Afrika dan 8,0% atau 258.000 jiwa terdapat di Mediterania Timur. Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2005 didapatkan bahwa sebanyak 140 per 1000 penduduk pada usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan jiwa dan 23% daintaranya mengalami PTSD.4

 

Apa sajakah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko infertilitas?

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kerentanan seseorang untuk menderita PTSD. Faktor-faktor tersebut ialah :

  • Jika dilihat dari aspek trauma, yang dapat mempengaruhi kerentanan seseorang mengalami PTSD adalah durasi dan beratnya peristiwa yang dialami, peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya peringatan dan juga banyaknya korban yang meninggal dunia.
  • Dari segi perasaan yang timbul saat trauma, seseorang akan cenderung mengalami PTSD ketika ia merasa hidupnya beresiko, merasa kurang mampu mengontrol peristiwa dan timbul rasa takut dan putus harapan.
  • Secara karakteristik individu, orang akan memiliki resiko mengalami PTSD jika orang tersebut menderita gangguan psikiatri dan saraf, trauma terutama saat anak-anak, adanya penyangkalan terhadap trauma yang dialami dan reaksi stress akut.
  • Faktor lain yang juga berpengaruh adalah faktor pasca trauma, berupa penyangkalan trauma oleh orang sekitar atau penolakan atas apa yang telah dialami serta kurangnya dukungan lingkungan sekitar.4

 

Apa sajakah faktor penyebab PTSD ?

PTSD dapat terjadi setelah seseorang mengalami kejadian yang sangat menakutkan ataupun kejadian yang membuatnya stress berat. PTSD tidak selalu berkaitan dengan kejadian yang sederhana, seperti kehilangan pekerjaan atau gagal lulus ujian. Satu dari 3 orang dengan pengalaman kejadian trauma yang berat mengalami PTSD. Hal tersebut masih belum dipahami dengan jelas mengapa orang dapat mengalami PTSD sedangkan sisanya tidak. Tetapi jika pernah mempunyai gejala depresi atau cemas, atau tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari keluarga atau teman maka akan meningkatkan kecendrungan mengalami PTSD setelah suatu kejadian trauma. Faktor genetik juga dikatakan mempunyai pengaruh terhadap PTSD. Secara garis besar beberapa hal yang dapat menyebabkan PTSD Antara lain : kejadian yang membuat stress termasuk kejadian trauma, mendapatkan risiko kelainan mental seperti  cemas dan depresi, sifat individu yang temperamental, dan cara otak meregulasi hormon.5

Beberapa hal yang berkaitan dengan terjadinya PTSD yaitu :

  1. Mekanisme mempertahankan hidup

Ingatan mengenai pengalaman masa lalu dapat mendorong untuk berpikir mengenai kejadian tersebut secara detail sehingga dapat mempersiapkan diri jika kejadian tersebut terulang, tetapi respon tersebut dapat justru  berdampak buruk bagi hidup karena tidak dapat memproses dan melupakan hal yang buruk setelah kejadian yang membuat trauma.

  1. Tingkat adrenalin

Penelitian menyebutkan bahwa orang dengan PTSD mempunyai tingkat hormon stress yang tidak seimbang. Orang dengan PTSD terus memproduksi hormone adrenalin yang tinggi dimana kerja hormone ini untuk keadaan yang disebut dengan istilah “fight or flight” walaupun disaat tidak ada ancaman.

  1. Perubahan di otak

Proses emosi yang terjadi di otak pada penderita PTSD disebutkan berbeda dibandingkan orang normal. Bagian otak yang bertugas untuk memori dan emosi yang disebut hippocampus didapatkan mempunyai ukuran yang lebih kecil pada penderita PTSD. Hal ini dapat menyebabkan malfungsi pada hippocampus dimana proses yang terjadi pada otak bagian ini tidak dapat berjalan normal sehingga rasa cemas dan depresi  tidak berkurang.5

 

Bagaimana cara menentukan seseorang mengalami PTSD ?

  1. Menurut PPDGJ III diagnosis pada seorang yang mengalami PTSD adalah :

1)         Diagnosis baru ditegakkan  bilamana gangguan ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatic berat ( masa laten yang berkusar antara beberapa minggu sampai beberapa bulan, jarang sampai melampaui 6 bulan). Kemungkinan diagnosis masih bisa ditegakkan apabila tertundanya waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan, asal saja manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak dapat alternative kategori gangguan lainnya.

2)         Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan baying-bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatic tersebut secara berulang-ulang kembali (flashbacks).

3)         Gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku semuanya dapat mewarnai diagnosis tetapi tidak khas.

4)         Suatu “sequelae” menahun yang terjadi lambat setelah stress yang luar biasa, misalnya dalam kategori F62.0 (perubahan kepriadian yang berlangsung lama setelah mengalami katastrofa).6

 

  1. Menurut DSM V gejala-gejala PTSD yang terjadi pada anak-anak adalah :
  2. Simtom A: Kriteria PTSD yang biasanya digunakan untuk orang dewasa hanya digunakan untuk anak-anak yang berusia lebih dari 6 tahun, PTSD dipicu oleh kejadian-kejadian traumatis seperti terancam kematian, cedera serius, dan mengalami kekerasan seksual, tidak termasuk menyaksikan melalui media elektronik, dan trauma bisa dipicu oleh pengasuhan
  3. Simtom B: mengingat kejadian yang mengganggu secara berulang-ulang,mimpi buruk, flashbacks, distress,  ditandai oleh adanya reaksi-reaksi psikologis apabila teringat kejadian traumatis
  4. Simtom C:  menghindari stimulus-stimulus secara berkepanjangan, dan adanya perubahan-perubahan kognisi yang negatif termasuk emosi negatif dan adanya perilaku menarik diri.
  5. Simtom D: perubahan gairah (semangat) yang ditandai oleh  2 dari gejala gejala berikut: mudah marah,  Hypervigilance, mudah kaget, masalah konsentrasi dan masalah tidur).7

 

Bagaimana perjalanan penyakit dari pasien PTSD ?

Prognosis pada penyakit PTSD berbeda-beda tergantung pada pasien. Prognosis yang baik ditentukan dengan onset gejala yang cepat, durasi gejala yang singkat, fungsi pramorbid yang baik, dukungan sosial yang kuat, tidak adanya gangguan psikiatri, kondisi medis, dan penggunaan zat berbahaya lainnya. Prognosis yang buruk pada umumnya dialami oleh pasien yang berusia sangat muda dan lanjut usia. Sedangkan pasien pada usia pertengahan, dapat ditoleransi lebih baik.8

 

Apa yang harus dilakukan ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda PTSD ?

Penanganan pertama psikologis menjadi pilihan utama dalam penurunan kejadian PTSD, terutama pada kejadian PTSD akibat bencana alam atau kejadian yang melibatkan banyak korban. Penanganan yang diberikan salah satunya adalah Cognitive-Behavioral Therapy (CBT).

CBT dilakukan untuk membantu mengevaluasi kepercayaan yang tidak rasional yang berdampak pada munculnya gejala-gejala PTSD pada korban. Pada dasarnya, CBT dilakukan untuk mengubah perilaku dan pengadopsian pikiran yang lebih realistis untuk membantu mencapai emosi yang seimbang.

Selain itu, farmakoterapi juga dapat dilakukan sebagai pendukung psikoterapi. Terapi ini bertujuan untuk meminimalisir gejala-gejala dari PTSD dengan penstabilan zat-zat pada otak yang menyebabkan kecemasan, kekhawatiran, dan depresi. Adapun beberapa contoh farmakoterapi yang sering digunakan dalam kasus PTSD, antara lain: 8

1)         Golonganbenzodiazepin:Chlordiazepoxide,Diazepam,Lorazepam.

2)         Golongannon-benzodiazepin:Buspirone,Sulpiride,Hydroxyzine.

3)         Golonganantidepresan:Trisiklik,Amitriptyline,Imipramine.

4)         GolonganMonoamin Oksidase Inhibitor(MAOI):Moclobemide

5)         Golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI): Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine.9

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing. pp. 271–280.
  2. Lynn M. A. 2015. Genetic approaches to understanding post-traumatic stress disorder. Int J Neuropsychopharmacol. 2014 Feb; 17(2): 355–370.
  3. Coetzee R.H. 2010. Detecting post-deployment mental health problems in primary care. J R Army Med Corps;156:196-9.
  4. Adshead G, Ferris S. Treatment Of Victims of Trauma. Advances in Psychiatric Treatment.2007;13:358-368.
  5. Kirkpatrick, H. and Heller, G. (2014). Post-Traumatic Stress Disorder: Theory and Treatment Update. The International Journal of Psychiatry in Medicine, 47(4), pp.337-346
  6. Maslim Rusdi. 2003. Buku Saku Diagnosis dan Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III
  7. American psychiatric association. 2013. Diagnostic and statistical manual of mental disorders : DSM-5
  8. Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. 2007. 10th Edition. New York:Lippincott Williams & Wilkin
  9. Gore, A.T. (2017). Posttraumatic Stress Disorder, Treatment, and Management. Medscape. Tersedia di http://emedicine.medscape.com/article/288154-overview. (Diakses 3 Okt. 2017)